Sabtu, 09 November 2013

Wawancara Beasiswa LPDP


Minggu lalu, tepatnya tanggal 30 Oktober 2013, saya mendapat sebuah email dari LPDP. Panggilan interview! Beasiswa! Saya jadi kembali semangat, seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya. Email tersebut memberitahu saya untuk mempersiapkan diri untuk interview dalam waktu dekat ini. Awalnya saya kira interviewnya tahun depan, eh malah sekarang.

Besoknya saya kembali mendapat email dari pihak LPDP. Mereka mengirim undangan wawancara. Itu artinya, dari waktu memasukkan berkas sekitar 2,5 bulan. Wawancara akan dilakukakn di Medan, Selasa – Rabu, 6-7 November 2013. Tepatnya di Gedung Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara (USU).

Saya berangkat dari Banda Aceh ke Medan pada senin malam. Karena perjalanan ke Medan dengan menggunakan bus sekitar 12 jam. Untuk perjalanan ke Medan kali ini, terima kasih banyak untuk teman saya, Gamal Halim, yang sudah bersedia direpotkan oleh saya, mengantar dan menjemput saya selama disana, terlebih lagi ketika proses wawancara. Ohya, saya menginap di HALIM PERDANA HOTEL (Promosi). 

Pagi itu Kota Medan diguyur hujan. Saya pikir, saya akan telat ke lokasi wawancara. Rupanya acara pembukaannya malah molor hingga lebih dari 1 jam dari jadwal. Hal tersebut karena menunggu kedatangan pihak LPDP dari Jakarta. Pembukaannya biasa saja, di luar ekspektasi saya, maksud saya, tidak seperti cerita orang-orang di blog mereka. Acaranya sebagai formalitas saja, mungkin karena sudah telat dan peserta hanya 15 orang. Wawancara dimulai sekitar pukul 11 lewat. Dan saya dipanggil untuk masuk ke ruangan wawancara seiktar pukul 16.00.

Pewawancaranya terdiri dari 3 orang. Satu orang Ibu Psikolog, dan dua orang Bapak Professor dari ITB dan IPB. Awalnya saya sangat merasa siap, namun tiba-tiba saya merasa tidak ada apa-apa dibandingkan mereka. Saya mulai takut. Pantaskah saya untuk beasiswa ini? Saya melihat wajah sang professor dari ITB, wajahnya asing bagi saja. Seperti tipikal dosen yang selalu memberikan nilai D untuk mahasiswanya. Saya mencoba menenangkan diri. Saya mengingatkan diri saya, bahwa dosen itu adalah seseorang yang berpendidikan, dan beliau akan objektif. Lagipula, orang-orang yang menjadi penyeleksi atau pewawancara untuk beasiswa ini juga diseleksi oleh LPDP terlebih dahulu, tentu saja mereka adalah orang-orang terbaik yang mempunyai emosi yang stabil. Jadi, saya tidak perlu takut.

Ketika masuk, saya disambut oleh ibu psikolog yang ramah itu. Ia tersenyum bak ibu peri. Menenangkan. Lalu beliau menyerahkan waktu kepada Bapak Prof dari ITB itu. Bapak tersebut bertanya tentang pengalaman organisasi saya. Entah karena apa, saya menjawab tidak beraturan. Saya tidak tenang. Hingga Bapak itu bercanda dan mengatakan, "Kapan belajarnya kalau kamu begitu banyak kegiatan."
Kami tertawa.
Lalu beliau menanyakan "Kenapa memilih UGM, kenapa bukan ITB?", dan pertanyaan terakhir tentang rencana studi saya, Magister Sistem dan Teknik Transportasi, adalah "Bagaimana solusi transportasi untuk Banda Aceh?"
Saya mengatakan masih diatasi dengan perbaikan pelayanan bus kota. Lalu beliau bertanya lagi, kenapa tidak monorail atau kereta api? Saya jawab, untuk ukuran kota kecil dan tingkat kemacetan yang masih cenderung rendah, kedua solusi tersebut belum ekonomis untuk beberapa tahun ini.

Lalu giliran Bapak Professor kedua yang bertanya, "Kapan kereta api pertama di Indonesia?" 
Saya menjawab, ketika zaman Belanda.
"Untuk apa kereta api pada masa itu?"
Untuk mengangkut barang dan orang.
"Mengapa dari yang sudah ada kereta api, orang Indonesia beralih ke bus dan mobil pribadi?"
Karena tingkat pelayanan kereta api pada zaman tersebut kalah dengan pelayanan bus dan mobil pribadi pada beberapa tahun terakhir.
"Artinya lebih bagus bus daripada kereta api?"
Ya, jika kita bandingkan dengan kereta api pada zaman tersebut. Namun, jika kita bandingkan dengan kereta api saat ini seperti di Jepang atau negara maju lainnya, tentu saja lebih baik kereta api.
"Apakah kamu pernah naik kereta api?"
Tidak.
"Kamu harus coba naik kereta api. Jangan hanya terpaku dengan apa yang kamu pikirkan. Di Jakarta ke Bogor naik kereta api, cepat dan nyaman."

Saya mulai bingung. Menurut saya, jawaban yang saya berikan senada dengan beliau katakan. Lalu saya memutuskan untuk menjelaskan konsep pelayanan dan kenyamanan dalam ilmu yang saya geluti (transportasi).
Nyaman bagi orang berekonomi menengah ke bawah berbeda dengan nyamannya orang yang berekonomi menengah ke atas. Misalnya, si A (berekonomi menengah ke bawah) nyaman dengan hanya pakai kipas angin, dan si B (berekonomi menengah ke atas) yang terbiasa pakai AC belum tentu nyaman dengan hanya kipas angin.
Pelayanan yang saya maksud adalah dari segi waktu tempuh atau kecepatan dan kenyamanan yang diberikan oleh suatu moda transportasi.
Lalu giliran ibu psikolog bertanya. Dengan tersenyum, Ia bertanya tentang essai yang pernah saya menangkan ketika SMA. Saya bercerita tentang essai tersebut.
Lalu Ia menyimpulkan,
"Saya kurang dalam kemampuan mendengarkan orang lain. Bapak-bapak ini kan sudah profesor, jadi kamu harus lebih mendengarkan"

Saya mengangguk. Dan saya tidak mengerti, mengapa orang-orang curhat kepada saya kalau saya tidak punya kemampuan mendengarkan yang baik? Bahkan beberapa teman yang dekat dengan saya tidak pernah bertanya, "Hei, kamu gimana? atau Apakah kamu baik-baik saja?" Saya bahkan berpikir, selama ini saya banyak memberikan kesempatan ketika orang lain berbicara. (Kecuali sama Nopi, mungkin saya lebih banyak bercerita, atau mungkin imbang-imbang). Saya belajar skill "mendengarkan seperti cermin" sejak saya baca buku 7 Habits, 7 tahun yang lalu.

Tetapi Ibu psikolog itu seolah tau, dan dia berkata, "Kamu tau, orang-orang yang hidupnya berat itu, akan memilih dua jalan." Ia membentuk angka dua dengan tangannya, jari telunjuk dan jari tengah.
"Orang-orang tersebut akan menjadi peka terhadap orang-orang di sekitarnya (menunjuk jari telunjuk kirinya dengan tangan kanan) atau menjadi seorang pemarah dan egois (menunjuk jari tengahnya).

Allah, terima kasih. Telah menjadikan saya peka dengan orang lain. Saya menangis. Dan hari ini, saya tau satu hal. Saya bukan suka ilmu psikologi, saya hanya peka dengan orang-orang disekitar saya.

Balik lagi ke saya ke wawancara (Oke. Ini adalah masalah saya, saya tidak fokus, dikit-dikit curhat), saya menghubungi abang. Saya tidak terima dikatakan seperti itu. 

Dia bilang, menurut pelatihan leadership yang dia ikuti, cara saya menyampaikan kurang tepat. Seharusnya saya lebih tenang dan serius.
"Bapak-bapak itu bukan latar belakang transportasi. Walaupun mereka itu adalah professor, mereka juga mungkin awam di bidang ini. Jadi, seharusnya, lia bilang, "Baik. Saya terima pendapat Bapak, tetapi menurut ilmu yang saya pelajari, bla bla bla." 
Intinya harus ada basa-basi yang saya pikir tidak perlu. Ya, public speaking skill. Contoh lainnya, "Terima kasih atas kesempatan ini,"

Jadi, untuk wawancara LPDP, sekian saja cerita saja. Intinya, hal pertama yang harus disiapkan adalah mental. Tenang. Kalau perlu, terlebih dahulu buat daftar pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ditanyakan. Kemudian tuliskan jawaban-jawaban yang ingin kamu jawab di notes kamu. Jadi, ketika pertanyaan itu muncul, kamu sudah punya gambaran akan menjawab seperti apa. Berlatihlah dengan teman atau merekam video ketika kamu menjawab. Untuk Beasiswa LPDP, pertanyaan seputar daftar berikut ini:

1. Pengalaman oranganisasi, sampaikan dengan teratur berdasarkan tahun
2. Mengapa memilih universitas yang akan dituju dan mengapa jurusan tersebut
3. Perluas wawasan tentang ilmu yang akan dipelajari, apa gunanya terhadap masyarakat dan daerah
4. Ingat kembali prestasi-prestasi
5. Berdoa dan jadilah diri sendiri.

Doakan saya memperoleh kabar baik beberapa hari kedepan ya teman-teman. Semoga postingan ini dapat membantu. Amiin.

11 komentar:

  1. Aamiin.. wah nggak sengaja blogwalking dan nemu ini cerita yg lagi hangat-hangatnya. Kebetulan saya juga sedang berniat mendaftar lpdp. Thanks sudah sharing pengalaman Mbak.. Semoga tertulis kabar baik diterimanya di artikel selanjutnya ya..

    BalasHapus
  2. Iya.. Terima kasih. Alhamdulillah lolos :). Semoga kamu juga ikutan lulus ya..

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas Sharing info wawancaranya..inshaAllah sy sdng menunggu jdwl wawancara LPDP di akhir thn ini..smg bisa berjalan lancar jaya dan lolos juga spt mb..Aamiiin..

    BalasHapus
  4. Mbk liana. .saya juga tertarik mau apply beasiswa ini,
    mau nanya mbak:
    1.tempat wawancaranya yang menentukan siapa yah?saya pikir mbak milih UGM,wawancarax pun di UGM
    2. Di persyratan nya tentang TOEFL ITP,apa wajib di lampirkan saat itu juga?atau bisa nyusul mbak?
    3. Kampus2 yang di rek0mendasi oleh LPDP apa aja yadi indonesia?apa bisa kita memilih kampus mana saja atau kembali ke kampus awal qt dulu?trmksh mbk. Mh0n jwb k email saia ya?muhamadsaidiana@gmail.com

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum mbak,
    saya mau bertanya apakah untuk beasiswa LPDP program magister DALAM NEGERI apa bila telah lolos seleksi wawancara harus memiliki LOA dan harus mengikuti lagi ujian seleksi masuk di universitas yang kita tuju ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. wslm. iya harus ikut ujian masuk univ bagi yg belum ada kuliah, diberi waktu 1 tahun itu.

      Hapus
  6. Halo Mbak,

    Saya mau nanya terkait wawancara beasiswa LPDP.
    Kebetulan saya akan interview dalam waktu dekat.
    Saat interview, semua dokumen asli harus dibawa.
    Kalau penghargaan berupa plakat apakah harus dibawa juga? Hehe
    Khawatirnya kalau kita tidak dapat menunjukkan apa yang tertera di formulir pendaftaran, akan mengurangi penilaian.
    Mohon sarannya ya.
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau memungkinkan bawa saja. pengalaman saya mereka tidak melihat sertifikat apapun selain dokumen penting

      Hapus
  7. jika ada pertanyaan, mohon langsung ke email saya, lianafisaini@yahoo.com. karena saya jarang buka blog dan tidak ada notification kalo ada komentar. terima kasih

    BalasHapus