Saya
dan teman saya duduk di barisan paling belakang diantara keluarga wisudawan/wisudawati
yang berwisuda pada hari itu. Saya menyimak dengan baik semua agenda pesta
kelulusan itu. Hingga akhirnya, tibalah waktu pemberian cendera mata dari pihak
fakultas kepada peserta wisuda yang lulus dengan predikat terpuji (cumlaude).
Betapa
bahagianya orang tua mereka. Berdiri di depan semua hadirin untuk predikat
kelulusan putra-putri mereka. Bulu-bulu di lengan saya berdiri. Seandainya saya
mampu membuat Mak dan Ayah berdiri disana, Mak pasti sangat bahagia. Dan Ayah
akan lebih menghargai saya.
Mengapa
Mak? Mak adalah panggilan yang biasa orang Aceh tujukan untuk ibunya. Kemiskinan
membuat wanita paruh baya yang saya panggil Mak itu menikah muda, setamat SMP.
Saya sangat ingin membuatnya berdiri disana. Berbahagia dan bersyukur memiliki
saya. Saya ingin beliau yakin bahwa keputusannya memiliki saya adalah benar.
Ayah
bukanlah lelaki jahat. Namun, beliau
mugkin mempunyai pemahaman tersendiri tentang makna sukses yang belum
bisa saya pahami hingga saat ini. Sejak saya kecil, Mak
selalu menjadi penyemangat dan sosok suci bagi saya. Berjuang agar saya bisa
mencicipi pendidikan terbaik semampunya.
Maka
sepulang dari acara wisuda itu, saya membongkar berkas kuliah saya. Saya
mencari KHS-KHS saya pada empat semester sebelumnya. Saya menghitung jumlah sks
yang harus saya ambil agar bisa menyelesaikan kuliah dalam rentang waktu kurang
dari 4 tahun. Selama ini saya terlalu sibuk dengan kegiatan ekstrakurikuler
kampus dan beberapa organisasi. Saya harus menyeimbangkan hidup saya dan
mendahulukan hal-hal yang penting.
Setelah
saya mengkalkulasikan nilai-nilai saya dengan target nilai untuk
semester-semester ke depan, saya bisa memperoleh IPK 3,56. Saya akan berusaha maksimal
untuk mendapatkan nilai sempurna semester-semester mendatang. Semangat saya seolah
meledak. Namun, usaha yang lakukan tidak menunjukkan hasil seperti yang saya
harapkan. Ada beberapa nilai B+ untuk mata kuliah yang saya targetkan
mendapatkan nilai A.
Semester
salanjutnya, saya mengubah strategi. Saya mengambil mata kuliah ekstra.
Berbekal nilai bagus, saya diizinkan mengambil 4 sks ekstra pada semester
mendatang. Saya mengambil satu mata kuliah berat yang seharusnya dikerjakan pada
semester 7. Maka menggantikan waktu yang biasa saya gunakan untuk tidur dengan membuat
tugas kuliah. Menatap Autocad*) dan Microsoft Excel adalah pekerjaan wajib
setiap malam.
Akan
manis nantinya, pikir saya. Ini adalah salah satu cara membahagiakan ibu, lulus
dengan IPK diatas 3,50. Saya akan membuat beliau menangis haru karena saya.
Saya akan membuat beliau berdiri di depan dengan prestasi saya. Saya menempelkan
kata-kata motivasi dan sebuah study plan
di depan meja belajar saya. Namun, ketertarikan terhadap kegiatan kampus tak
bisa saya musnahkan seketika. Angkatan saya mendapat tanggung jawab mengadakan
Lomba Berhitung Fakultas Teknik (LBFT) Se-Aceh dari Himpunan Mahasiswa Sipil
(HMS). Saya ikut menjadi panitia acara dan salah satu penanggung jawab acara di
Kota Lhokseumawe, 6 jam perjalanan dari kota Banda Aceh.
Banyak
waktu yang aku habiskan di luar kota, maka saya gagal 3 sks. Perencanaan Gedung
1. Nilai X menempel di KHS saya. Saya menangis dan menyesali diri yang tergoda
dengan kegiatan ekstrakurikuler kampus. Memang hanya beberapa orang dari
angkatan saya yang berhasil menyelesaikan mata kuliah tersebut dalam satu
semester, namun saya telah melanggar janji terhadap diri sendiri.
Saya
kembali bangkit dan menata diri. Saya membuat perencanaan yang lebih baik,
mengutamakan yang menjadi prioritas dan menepati janji pada diri sendiri.
Semester selanjutnya tidak banyak kegiatan kampus. Saya memfokuskan diri mengerjakan
tugas yang semakin menumpuk dengan beban berat diatas kepala. Belum lagi kerja
praktek dan memikirkan judul tugas akhir. Saya juga mengambil mata kuliah
tambahan untuk menambal IPK. Akhirnya saya berhasil lulus 3 tahun 11 bulan,
dengan IPK 3,51. Saya memenuhi janji pada diri sendiri. Perjuangan yang terasa
begitu panjang. Mengurangi waktu bermain dan tidur nyenyak di malam hari. Untuk
Ibu, orang yang paling saya cintai.
Itulah
kesuksesan terbesar dalam hidup saya hingga saat ini. Saya berjanji membuat Ibu
bangga atas prestasi saya yang
berikutnya. Memperoleh beasiswa melanjutkan master degree dan menjadi seorang
pengajar adalah impian saya.
Selamat,
BalasHapusSaya membaca essay ini, dan mengingatkan kembali apa yg tlah sya lalui semasa kuliah, beruntunglah anda, karena disibukkan dengan hal positif. Tidak seperti saya, yang terlalu banyak menyia-nyiakan waktu, bermain. IPK pun anjlok, kejadian lalu memang tidak bisa diputar, penyesalan adalah pelajaran paling bermakna bagi saya sekarang.
Sekali lagi selamat. :-)
Terima kasih. Tidak ada yg perlu disesalkan, semua masih bisa diperbaiki. InsyaAllah
HapusSaya sangat tertarik dengn essaynya... dan saya tertarik untuk merekrut saudari untuk menjadi dosen di universitas kami, segera hubungi saya... di 085880561808
BalasHapusMohon maaf, Saya ingin mengabdi untuk daerah saya terlebih dahulu Pak
HapusMbak essay yg hrs dibuat untuk pengajuan beaaiswa lpdp 2 essay atau pilih 1?trimakasih.sy baca2 essay mb untuk membantu pembuatan essay sy gpp kn?g plagiat kok mb hny buat memancing ide.thx
BalasHapuskeduanya
Hapusalhamdulillah sekali bisa membaca essay inspiratif ini... saya mau bilang kalu saya punya pengalaman yang hampir sama dengan mba... makasih mba udah jadi salah satu orang yang inspiratif
BalasHapussemoga bermanfaat
Hapusinspiratif sekali penulisan essay mbak..
BalasHapus