Ketika
kamu menjadi seorang ibu, maka prioritas utama bagimu adalah bayimu. Ketika dia
membutuhkanmu, kamu akan langsung bergerak untuk memenuhi kebutuhannya.
Meninggalkan apa yang sedang kamu kerjakan. Itulah yang terjadi padaku saat
ini. Tanpa sedikitpun merasa direpotkan.
Contohnya
pagi ini, ketika aku sedang bekerja, dimana aku membutuhkan fokus yang tinggi,
tiba-tiba dia merengek. Itu artinya dia membutuhkanku. Aku langsung datang
memenuhi kebutuhannya. Tanpa jeda sedikitpun. Meninggalkan apa yang sedang aku
kerjakan. Kapan aku akan kembali ke pekerjaanku? Aku tidak punya durasi yang
pasti. Bisa saja dia membutuhkanku sebentar, bisa saja sepanjang dia terjaga.
Lalu kadang kelelahan dan tidak tau akan meneruskan darimana pekerjaanku.
Mungkin
perilaku ini terlihat sederhana. Tetapi jika dilakukan terus-menerus, ada
perasaan ‘tidak produktif’. Ada perasaan tidak tuntas terhadap hal yang sedang
dikerjakan. Tidak ada hasil. Sia-sia. Kelelahan, tetapi seperti tidak melakukan
apa-apa. Dan hal tersebut berdampak ke kesehatan mental, atau ‘kewarasan’ dalam
menjalani hidup sebagai ibu baru. Dan yang lebih parah lagi, kamu ga tau, kapan
kamu bisa melakukan sesuatu dengan tuntas lagi. Karena menjadi seorang ibu adalah
kontrak seumur hidup. No turning back.
Apakah
aku menyesal menjadi seorang ibu yang berusaha tetap tinggal di rumah
membersamai tumbuh kembang bayiku?
Kadang-kadang
aku ingin berhenti, aku ingin kembali ke kantor dan bekerja. Tapi hatiku belum
rela. Aku masih ingin merawatnya dengan tanganku selama mungkin. melihat
senyumnya saat dia melihatku membuat semua lelahku lenyap. Saat dia tertawa
melihat aku datang, atau ketika kami bermain, kewarasanku kembali. Bayiku
adalah amanah Allah untukku, pelipur lara hati yang kadang gundah. Semoga Allah
selalu memberimu kesehatan, Nak. Ibu sayang Hisyam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar