Hari ini adalah the 2nd happiest day dalam hidupku selama empat hari tiba di Makassar. Ini pengalaman pertamaku mengikuti simposium nasional dan bertindak sebagai presenter atau melakukan presentasi makalah.
Panjang cerita tentang aku mengirimkan makalah ke simposium ini. Singkatnya, dua orang yang paling berperan adalah Eti dan Pak Sony. Pada bulan Agustus lalu, Pak Sony susah ditemui karena katanya sedang sibuk dengan FSTPT. Agar bisa ketemu dan diskusi dengan Pak Sony, kami berdua caper-caperan membuat paper dari hasil tesis dan rupanya keterima, namun belum bisa juga ngobrol dengan Pak Sony. Ya sudah, nothing to lose kok. Maka jadilah aku pemakalah pada Simposium FSTPT ini, karena disemangati oleh Eti dan secara gak langsung dipaksa oleh Pak Sony.
***
Pagi ini, Abang mengantarku ke Four Points by Sheraton dengan menggunakan motor pukul 06.00. Kardina dan Eti menginap disana. Aku sudah sarapan roti namun diajak lagi sarapan oleh mereka. Jadi, ya sudahlah. Makan besar lagi!
Kami baru berangkat ke lokasi acara which is di Fakultas Teknik Unhas, Gowa, pukul 08.00. Kami dijemput dengan bus oleh panitia. Kami tiba disana sekitar pukul 09.00, registrasi ulang dan acara baru akan dimulai ketika kami memasuki CSA Building yang berada di Lantai 2 dan 3.
Opening Ceremony
Opening Ceremony-nya keren. Ada tarian tradisional dan beberapa orang melakukan pidato in English. Aku pikir ini hanya acara biasa, tetapi aku salah. Aku melihat Prof. Leksmono, Ibu Umiyatun Hayati dari Kementrian Perhubungan, Prof. Danang Parikesit dan dosen-dosen keren lainnya berada disana, termasuk yang aku kenal, Pak Sofyan, Pak Isya, Pak Sony dan Pak Ofyar.
Aku mencoba berkenalan dengan peserta disampingku. Rupanya Ibu Ani tersebut adalah seorang dosen di Univ Pancasila di Jakarta. Belum lagi di depanku dan disampingnya lagi adalah mahasiswa S3 ITB, dan bapak dosen Unpar, Pak Joewono yang papernya sering aku baca. Belum lagi keynote speakernya Prof. Junyi Zhang dari Hiroshima University serta 3 orang invited speaker yang juga profesor dan seorang dosen.
Rasa percaya diri aku menurun. Tanganku dingin. Aku jadi takut. Apalagi persiapanku biasa saja. Untung Lisya, Eci, Kardina, Nabila, dan Eti menguatkan via grup WA Nyunyunyu. :D
Sesi Presentasi
Sesi oral presentasi dimulai pukul 13.00, setelah makan siang. Aku mendapat bagian di Ruang 125 CR 50. Ruang kelas terlihat sepi. Hanya ada dua juri, satu orang mahasiswa Unhas, satu orang dosen dan satu orang mahasiswa S3 dari UGM sekaligus dosen di Bengkulu. Aku mendapat urutan presentasi nomor 2, setelah setelah Bapak Reza, dari Unhas. Kemudian, Bu Elsa dan Pak Rudi, mahasiswa S3 ITB masuk ke ruangan itu.
Tanganku dingin. Aku takut dan panik. Belum lagi aku tau bahwa Bu Elsa dan Pak Rudi menguasai topikku. Bagaimana kalau mereka tanya yang gak aku mengerti. Dan waktunya hanya 15 menit. Aku kan ngomongnya lambat. Huaaa...
Aku menguatkan diri. Hanya 15 menit and it will end!
Aku maju ketika namaku dipanggil. Well, ini tidak akan seberat waktu aku sidang. Aku berusaha memperkenalkan diri dan salah tingkah dan lupa mengatakan aku dari kategori master! Aku menjelaskan dengan cepat ketika juri mengatakan sisa waktu 5 menit lagi. Aku mempercepat presentasiku. Aku yakin para pendengar pasti tidak mengerti yang aku katakan, hahaha.
Bu Elsa mengajukan pertanyaan dan aku menjawab dengan lancar. Alhamdulillah semuanya selesai.
Ketika aku kembali ke tempat duduk dan Ibu Tri dari UGM maju ke depan, Pak Sony datang. Lalu Pak Sofyan juga masuk ke ruang itu. Dan beberapa peserta lain masuk. Jadilah ruangan yang ramai dan diskusi berjalan dengan baik. Sesi presentasi pun berakhir. Kami menunggu closing ceremony hingga setelah magrib.
Closing Ceremony
Kami kembali ke Ruang Lect. Theatre-1 Gedung CSA Lt 2 untuk closing ceremony. Aku duduk di samping Dila, salah satu mahasiswi fast tract, kami sama-sama dibawah bimbingan Pak Sony.
Aku mengganti sepatu pansus hitam yang sudah menyiksa kakiku dengan sepatu wakai buluk berwarna biru merah. Toh cuma duduk dan menunggu waktu pulang diantar oleh bus.
Closing ceremony ini hanya diisi dengan pembacaan award dan foto bersama. Ibu Anastasia Caroline Sutandi maju ke podium dan membacakan award.
"Kalau acara-acara seperti ini, kebanyakan yang menang award dari dari Univ UGM yaa," kataku pada Dila yang duduk disampingku malam itu.
Dila membenarkan pernyataan itu dan kami masih mengobrol hingga aku sadar, Ibu Anastasia Caroline Sutandi, menyebutkan judul paper-ku diikuti dengan namaku sebagai pemenang kedua kategori master.
Oh.. what? Aku pasti salah dengar. Ini tidak mungkin. Aku dipersilakan maju ke depan, dan baru sadar sudah ganti sepatu wakai biru merah gara-gara kaki luka pakai sepatu perempuan pas presentasi ketika kembali ke tempat duduk lagi.
Lalu Dila juga dipanggil ke depan, sebagai pemenang pertama kategori master. Dan terjadilah selfie oleh pak pembimbing kami!
I was so happy melihat wajah pembimbingku hari itu. It seems he's so proud of us. Rasanya kayak lihat wajah orang tua sendiri yang bahagia karena kita. Terima kasih pak, semoga Allah membalas kebaikan bapak.
***
Anyway, terima kasih ya SSW squad, terutama buat Etty dan Pak Sony, orang-orang behind the scene yang sudah buat aku pura-pura gila hingga berani ngirim paper ke seminar. Being a presenter in a seminar has been my dream since I was in bachelor degree, tapi selalu takut dan merasa gak mampu.
Ini adalah paper pertama yang aku presentasikan sendiri, setelah sebelumnya dipresentasikan oleh dosenku, dan sebelumnya lagi sudah keterima abstract-nya tapi gak berani kirim full papernya karena takut bahasa inggrisku jelek.
Ya Allah, terima kasih untuk begitu banyak kebahagiaan dan keberkahan. Alhamdulillah.
Mak, walaupun mamak gak tau dan gak ngerti, this is for you.
Abang, terima kasih untuk begitu banyak support. Hope us till jannah. Amin.
Satu lagi, pada acara ini, aku juga ketemu Pak Sofyan dan Pak Isya, dosen-dosen aku ketika S1 di Universitas Syiah Kuala dulu. Senang sekali rasanya. Namun, aku gak sempat minta foto bersama dengan beliau berdua, padahal niat mau minta foto waktu closing ceremony. Bapaknya juga ada acara khusus pas malam hari. I am happy to see them again.
Sekian cerita hari keempat di Makassar. Aku berharap, untuk kalian yang gak percaya diri seperti aku, please, jangan berhenti mencoba. We plan, Allah decide. Don't give up ya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar