Minggu, 31 Desember 2023

catatan akhir tahun 2023 - menjadi ibu

Sepertinya hanya duniaku yang terhenti sejenak (pause), sedangkan orang lain yang memiliki anak atau baru melahirkan melaluinya dengan baik. Apakah aku yang bermalas-malasan ataukah keadaan yang mengharuskan demikian?

Bagiku, menjadi ibu itu seperti membelah diri. Dengan waktu tetap 24 jam, ibu harus meneruskan hidupnya dan juga hidup untuk anak. Memasak untuk anak, memandikan anak, memakaikan baju anak, menyuapi makan anak, dan menjaga anak agar selalu aman, menemaninya bermain, memastikan semuanya kebutuhan anak terpenuhi, tidur tidak nyenyak, ada aktivitas ganti diaper dan menyusui di malam hari. Belum lagi ada drama pergerakan tidak terprediksi saat mandi ataupun memakaikan baju. Dan adegan makan yang tidak sesuai ekspektasi waktu yang dialokasikan. Beruntung, kadang ada suami yang bantuin. Atau ada orang tua yang membantu menjaga anak.

Sebenarnya semua pekerjaan itu bisa saja didelegasikan ke orang lain. Misalnya, makanan anak bisa dibeli saja yang instan. Susu anak bisa diberikan susu formula. Tetapi setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Qadarullah anakku ada riwayat alergi ringan, jadi dia tidak bisa makan sembarangan, aku harus memasak menu utama dan snack setiap hari. Begitu juga dengan menyusui, mungkin banyak ibu bekerja yang memberikan susu formula, tetapi aku tetap ingin menyusui. Aku ingin yang terbaik untuk anakku. 

Ada banyak kegiatan lain juga yang bisa didelegasikan. Memandikan, memakaikan baju dan memberi makan anak bisa diminta tolong ke anggota keluarga yang lain. Misalnya ke orang tua. Atau bermain bersama anak juga didelegasikan ke orang lain seperti tukang jaga anak.

Tetapi aku ingin menjadi ibu yang hadir. Ibu yang selalu ada ketika anakku membutuhkanku. Makanya aku memutuskan untuk lebih banyak berada di rumah. Melakukan hal-hal yang bisa aku kerjakan dari rumah. Aku memilih mendelegasikan beberapa pekerjaanku ke orang lain. Agar aku bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak. Apakah ini keputusan yang salah?

Untuk karir, banyak hal yang mungkin terlewati selama setahun terakhir, tetapi aku bahagia bisa membersamai pertumbuhan bayiku. Walaupun ada banyak hal yang sering ku pertanyakan pada diri sendiri. Apakah ini keputusan yang benar? Ataukah ini hanya alasan agar aku bisa bermalas-malasan? Apakah suatu kesalahan kalau aku ketiduran setelah menyusui yang keempat kalinya? Ada malam-malam dimana aku tidak bisa meninggalkan bayiku walau hanya sejenak, ke kamar mandi saja bayiku langsung menangis. Apakah suatu kesalahan untukku ikut tidur dengannya? Namun, ada juga malam-malam yang aku lalui dengan bekerja hingga tengah malam.

Inilah dilema ibu bekerja. Ada karir yang direlakan untuk menjadi biasa-biasa saja sementara waktu, atau ada waktu kebersamaan dengan anak yang direlakan untuk bekerja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar