Sepertinya hanya duniaku yang
terhenti sejenak (pause), sedangkan orang lain yang memiliki anak atau
baru melahirkan melaluinya dengan baik. Apakah aku yang bermalas-malasan
ataukah keadaan yang mengharuskan demikian?
Bagiku, menjadi ibu itu seperti
membelah diri. Dengan waktu tetap 24 jam, ibu harus meneruskan hidupnya dan
juga hidup untuk anak. Memasak untuk anak, memandikan anak, memakaikan baju
anak, menyuapi makan anak, dan menjaga anak agar selalu aman, menemaninya
bermain, memastikan semuanya kebutuhan anak terpenuhi, tidur tidak nyenyak, ada
aktivitas ganti diaper dan menyusui di malam hari. Belum lagi ada drama
pergerakan tidak terprediksi saat mandi ataupun memakaikan baju. Dan adegan
makan yang tidak sesuai ekspektasi waktu yang dialokasikan. Beruntung, kadang
ada suami yang bantuin. Atau ada orang tua yang membantu menjaga anak.
Sebenarnya semua pekerjaan itu
bisa saja didelegasikan ke orang lain. Misalnya, makanan anak bisa dibeli saja
yang instan. Susu anak bisa diberikan susu formula. Tetapi setiap anak memiliki
kebutuhan yang berbeda. Qadarullah anakku ada riwayat alergi ringan, jadi dia
tidak bisa makan sembarangan, aku harus memasak menu utama dan snack setiap hari.
Begitu juga dengan menyusui, mungkin banyak ibu bekerja yang memberikan susu
formula, tetapi aku tetap ingin menyusui. Aku ingin yang terbaik untuk anakku.
Ada banyak kegiatan lain juga
yang bisa didelegasikan. Memandikan, memakaikan baju dan memberi makan anak
bisa diminta tolong ke anggota keluarga yang lain. Misalnya ke orang tua. Atau
bermain bersama anak juga didelegasikan ke orang lain seperti tukang jaga anak.
Tetapi aku ingin menjadi ibu yang
hadir. Ibu yang selalu ada ketika anakku membutuhkanku. Makanya aku memutuskan
untuk lebih banyak berada di rumah. Melakukan hal-hal yang bisa aku kerjakan
dari rumah. Aku memilih mendelegasikan beberapa pekerjaanku ke orang lain. Agar
aku bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak. Apakah ini keputusan
yang salah?
Untuk karir, banyak hal yang
mungkin terlewati selama setahun terakhir, tetapi aku bahagia bisa membersamai
pertumbuhan bayiku. Walaupun ada banyak hal yang sering ku pertanyakan pada
diri sendiri. Apakah ini keputusan yang benar? Ataukah ini hanya alasan agar
aku bisa bermalas-malasan? Apakah suatu kesalahan kalau aku ketiduran setelah
menyusui yang keempat kalinya? Ada malam-malam dimana aku tidak bisa
meninggalkan bayiku walau hanya sejenak, ke kamar mandi saja bayiku langsung
menangis. Apakah suatu kesalahan untukku ikut tidur dengannya? Namun, ada juga
malam-malam yang aku lalui dengan bekerja hingga tengah malam.
Inilah dilema ibu bekerja. Ada
karir yang direlakan untuk menjadi biasa-biasa saja sementara waktu, atau ada
waktu kebersamaan dengan anak yang direlakan untuk bekerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar