Sabtu, 11 April 2020
personal standard of happiness and life satisfaction
Kadang-kadang aku sering berpikir, kok sepertinya life was easier. Banyak hal yang bisa membuat aku bahagia. Dulu, cuma dengan jalan-jalan sendirian di sekitaran kampus ITB, foto dengan bunga kuning yang mekar di depan Perpustakaan Pusat ITB sudah membuat aku merasa bahagia.
Dulu, jalan-jalan di Kota Tua Jakarta saja sudah happy. Begitu semangat juga untuk lihat-lihat isu museum.
Dulu, aku takut keluar malam di Bandung. Waktu teman-teman lihat kembang api dan tunggu kembang api di Lapangan Gazibu tengah malam, kita semua kedinginan. Tapi ketika lihat kembang api, itu sudah paling senang.
Tahun 2014, awal-awal di Bandung, nongkrong di cafe dan pergi ke PVJ adalah hal yang mewah. Waktu itu belum ada grab atau gojek, jadi kita naik angkot dan jalan kaki. Itu seru dan bikin happy.
Terus juga kita Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda Dago, itu juga sudah sangat happy. Dan cuma ikutan acara beramai-ramai di ITB juga sudah senang dan langsung pingin foto-foto.
Bahkan yang lebih simpel lagi, dapat bunga 'hidup' waktu Kak Eja wisuda sudah happy sekali karena di Banda Aceh, waktu itu, bunga hidup adalah barang langka. Dan di ITB bisa dibeli dengan murah.
Pokoknya it was easier to feel happy.
Sekarang kayaknya untuk dapat hal-hal yang bikin excited agak susah. modalnya harus besar. Kecuali kalau ke Makassar atau indonesia timur, bikin semangat.
Pokoknya harus sama hal-hal yang ga pernah dilakukan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar