Ketika batukmu tak bisa tertahankan, dan kepalamu sakit bagai terbelah, dititik itu, anakmu yang lagi sakit hanya mau sama kamu. Kamu berusaha untuk bersabar sebesar kesadaran yang kamu miliki, bahwa anakmu masih bayi, bahwa anakmu membutuhkanmu, bahwa yang dia tau, kamu adalah dunianya. Kamu yang akan menyayanginya melebihi apapun yang ada pada dirimu.
Mungkin saat itu kamu marah pada keadaan. Kamu mempertanyakan,
mengapa semuanya terasa begitu berat untukmu? Kadang, mungkin marahmu keluar
dari mulutmu. Yang sering kali kamu sesali.
Sebenarnya, kamu hanya ingin berhenti sejenak. Beristirahat
sekejap. Namun, waktu yang ada tidak berpihak padamu. Bukan di waktu itu yang
cocok untuk beristirahat. Mungkin di waktu yang lain. Walaupun sangat berat
untukmu, kamu harus melewatinya. Walaupun dengan air mata, kamu harus menjalaninya.
Dalam penyesalanmu yang mungkin pernah membuatmu begitu kesal pada keadaan, kamu berpikir, apakah anakmu akan mengerti, kamu akan menyesali semua ‘kelepasan’ sabarmu yang pernah kamu lakukan padanya? Bahwa kamu tidak bermaksud menyakitinya. Bahwa sebenarnya kamu ingin selalu memeluknya dan menyayanginya?
Tapi kesadaranmu kadang menguap. Kesabaranmu kadang memudar. Kewarasanmu
kadang menghilang.
Setelah waktu sejenak berlalu, bukankah kamu ingin selalu
membersamai anakmu lagi? Bukankah kamu ingin selalu ada dan terus menikmati
waktu bersamanya? Dalam keadaan sedih dan senang, sakit dan sehat dan semuanya
keadaan yang ada.
Dear Hisyam,
Maafkam ibu ya Nak,
Ibu belum menjadi ibu yang sempurna.
Tetapi ibu akan terus belajar dan memperbaiki diri.
Agar ibu bisa menjadi ibu yang hebat untuk Hisyam..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar