Rasanya mungkin kayak kamu ingin melakukan sesuatu, tapi
ototmu tak bisa bergerak sedikitpun. Atau kayak kamu mau bilang hal yang sangat
penting, tapi kamu kehilangan suaramu.
Saya ingin berlari, tapi kaki saya tiba-tiba kaku. Kaki saya tidak bisa bergerak. Saya ingin menangis, tapi saya malah menghibur diri. Saya ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tau harus katakan apa. Saya mencari sesuatu yang bisa menenangkan saya. Tetapi yang saya peroleh adalah hampa.
Saya ingin berlari, tapi kaki saya tiba-tiba kaku. Kaki saya tidak bisa bergerak. Saya ingin menangis, tapi saya malah menghibur diri. Saya ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tau harus katakan apa. Saya mencari sesuatu yang bisa menenangkan saya. Tetapi yang saya peroleh adalah hampa.
Padahal dia hanya berdiri disana. Tidak melakukan apapun.
Tapi ini menyakitkan. Kamu tau apa motivasi dia berdiri disana? Menemani seorang
perempuan menunggu seseorang.
Saya berdiri di kejauhan. Mencari kesibukan. Saya berharap
diri saya tidak melihat ke arahnya. Tapi kepala saya terus saja mengarahkan
mata saya ke tempat dia berdiri. Berharap mata kami bertemu. Dan saya akan tersenyum
sedikit.
Tapi hellooo Remora. Mana mungkin dia akan melihat saya, berkenalan
saja tidak. Maka berakhirlah harapan saya untuk itu. Rasanya sakit.
Kamu mungkin menganggap saya adalah perempuan bodoh. Dengan bentuk
wajah dan body yang -kata sahabat saya- di atas rata-rata, tambah lagi saya
mudah bergaul dengan siapa saja, para laki-laki itu mudah saja jatuh cinta pada
saya. Tapi saya malah menyukai seseorang yang tidak mengenali saya. Kamu lebih
baik jangan menghakimi. Karena kamu tidak mengerti. Saya suka dia. Kenyataan
itu saja yang perlu kamu terima.
Refleksi sebuah kejadian pada Desember 2011
Special thanks to Adana Rizki yang selalu menginspirasi.
Special thanks to Adana Rizki yang selalu menginspirasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar