Minggu, 09 Desember 2012

Poli Gigi yang Malang


Waktu wisuda kemarin, tanggal 28 november 2012, saya mendengar Rektor Fakultas Kedokteran Unsyiah memberi sambutan dan laporan. Dua kalimat beliau yang paling saya ingat kira-kira begini. Pertama, para wisudawan dan wisudawati harus mampu memperbaiki sistem dan mengabdi kepada masyarakat dengan ikhlas, terutama untuk lulusan dari Fakultas Kedokteran. Kedua, RSUZA Banda Aceh merupakan rumah sakit dengan peralatan tercanggih dan lengkap. Duniapun menyadari hal itu.

Dua hari yang lalu, tepatnya Hari Selasa, saya berkunjung ke rumah sakit nomor satu di Aceh tesebut, tepatnya ke poli gigi. Saya ingin membersihkan karang gigi dan memeriksa kesehatan gigi saya. Namun, betapa kecewanya saya, petugas mengatakan bahwa alat untuk membersihkan karang gigi sedang rusak, dan saya hanya boleh memeriksa kondisi gigi saya saja.

Saya mengambil karcis, setelah mengambil karcis, saya mengantri di jendela untuk mengambil kartu berobat. Ketika sedang mengantri, saya merasa sedih. Seorang dokter sedang mengeluh tentang pekerjaannya melelahkan dan banyaknya pasien yang datang berobat ke rumah sakit. Dokter dan petugas lain pun ikut menimpali dengan ekspresi wajah menyedihkan dan meng-iya-kan. Tidak seorang pun dari mereka yang berusaha mengingatkan tentang janji setia dokter dan pelayanan yang harus mereka berikan kepada masyarakat.

Beberapa saat kemudian, saya dipanggil untuk masuk ke ruangan. Saya dipersilakan duduk di sebuah kursi pemeriksaan oleh seorang petugas. Saya menunggu beberapa saat dan tidak ada seorang dokter pun menghampiri saya. Saya memperhatikan seluruh ruangan itu, hanya satu orang dokter yang terlihat sedang memeriksa seorang pasien laki-laki. Saya menunggu dengan kebingungan. 

Saya mulai berpikir, mengapa saya tidak dilayani? Setelah pasien laki-laki itu keluar, dokter perempuan tadi memanggil saya dan meminta saya pindah ke kursi pemeriksaan yang ada di hadapannya. Perempuan itu muda dan cantik. Dokter tersebut menanyakan keluhan saya. Dia berdiri dan mengganti sarung tangannya. Sesekali ia mengomentari kekritisan pasien sebelumnya kepada asistennya.

“Pasien tadi bertanya, ini gelas sudah berapa ribu orang yang pakai?" Dokter cantik tadi mengulangi perkataan pasiennya sebelum saya.

Saya terdiam dan memperhatikan gelas kumur yang ada di sebelah kiri saya. Kurang bersih. Itulah yang terpikir di kepala saya saat itu. Dokter itu mengorek mulut saya. Katanya, ada pembekuan darah di bawah gigi. Ia lalu membersihkannya. Setelah dioleskan obat, saya diizinkan keluar.

Poli gigi ini berada di lantai 2 sebuah gedung kawasan rumah sakit lama. Saya keluar dari pintu perawatan sekitar pukul 11 siang, bersamaan dengan para petugas dan dokter di poli gigi itu juga berhamburan keluar, meributkan sebuah paket oleh-oleh, yang sepertinya dari seorang dokter yg baru saja keluar kota. Mereka meributkan makanan itu dengan ceria.

Saya menuju tangga, dan berhenti disana dengan keheranan melihat tingkah para dokter itu. Saya melihat seorang ibu dan seorang anak perempuan, berpakaian seragam sekolah, sedang naik ke tempat saya berdiri. Tiba-tiba datang seorang laki-laki dari arah poli gigi tadi, sepertinya ayah anak tersebut.

“Sudah jam istirahat, katanya,” ungkap lelaki itu kecewa.

Istrinya mengatakan sesuatu. Ibu itu sepertinya mengeluh bahwa anaknya dari sekolah. Saya mendengar keluhan ibu tersebut, dan menyarankan agar mengatakan alasan tersebut kepada dokter-dokter disana.

Saya turun dan meninggalkan poli gigi tersebut. Saya menuju parkiran sepeda motor yang terletak di belakang gedung tersebut. Saya duduk di parkiran. Saya menceritakan keadaan di poli gigi tersebut kepada seorang teman. Tentang dokter dan petugas yang kurang semangat bekerja. Tentang peralatan yang rusak. Tentang pelayanan yang kurang baik.
Timbul pertanyaan di kepala saya, apakah mereka tidak cukup biaya? Ataukah gaji mereka kurang banyak? Dimana janji pengabdian mereka terhadap masyarakat? Dan teman saya ikut berkomentar. Itukah dokter-dokter via duit orang tua?

Ketika saya sedang menceritakan itu kepada teman saya, dokter yang memeriksa saya tadi datang menuju parkir. Ia menuju sebuah sepeda motor. Dengan ragu, saya menyapanya.
“Dokter yangg tadi kan?” Tanya saya ragu.
“Iyaa...” sambutnya dengan ramah.
Apakah saya boleh bertanya sesuatu dok?”
“Iya.. Silahkan. Mau tanya apa, dek?”
Ini kesempatan saya bertanya. Saya harus menggunakan bahasa yang bagus. Itulah yang ada dalam pikiran saya.
 “Kok dokter-dokter di poli gigi kayaknya gak semangat bekerja ya?” Tanya saya dengan nada polos.
 “Oh.. Itu karena kami mulai bekerja jam 8.30, sedangkan poli lain jam 10, dek. Makanya kalau jam 11 kami sudah capek dan malas.” Dokter cantik itu menjelaskan dengan santai.
“Sekarang dokter mau kemana?” Tanya saya lagi.
“Ini saya mau pulang. Nanti jam 2, saya balik lagi,” kata dokter itu tersenyum seraya meninggalkan saya.
“Oh.. iya dok. Hati-hati”.
Saya tersenyum pada dokter tersebut. Wanita itu pun pergi. Saya duduk kembali di parkiran. Logika saya mulai bekerja kembali. Bukankah waktu istirahat seorang Pegawai Negeri Sipil itu adalah sekitar jam 12.00 atau 12.30? Saya merasa bingung dan menelan ketidakpuasan itu sendirian.
Akhirnya, saya memutuskan untuk membuat sebuah kalimat di akun jejaring sosial saya,
Dokter dan pegawai poli gigi di RSU ZA Banda Aceh sepertinya membutuhkan motivasi untuk memberi pelayanan dengan tulus dan bekerja dengan baik.”
Note :
Saya meminta maaf kepada para dokter di RSUZA Banda Aceh atas tulisan saya ini, khususnya dokter-dokter dan petugas di poli gigi. Mungkin tidak semua dokter dan petugas seperti yang saya ceritakan di atas. Dan kebetulan, hanya saya yang mendapat pelayanan yang kurang memuaskan. Saya hanya ingin mengungkapkan perasaan saya hari itu, mungkin bisa dijadikan sebagai masukan untuk sebuah perubahan. Bukan untuk pencemaran nama baik. Terima kasih atas pengertiannya.

Mari bersama merubah bangsa ini lebih baik :)
Banda Aceh, 6 Desember 2012

2 komentar:

  1. Itulah ju.. Dokter jaman sekarang Jadi dokter cm untuk gengsi-gengsian dengan sesama teman2 nya, juga sebagai "modal" tuk memikat pasangan dengan jas putihnya saja.. Bukan untuk mengabdi ke masyarakat, Ga lebih..

    BalasHapus